Minggu, 31 Januari 2010

MEMBANGUN POLITIK YANG DILANDASI DENGAN NILAI-NILAI ISLAM

keadaan keamanan dan kedamaian dalam bernegara (kecenderungan) ditentukan oleh kondisi politik yang ada. Politik merupakan simpul tali yang menghubungkan diantara manusia. Menurut Kuntowijoyo, kita tidak usah hirau dengan pernyataan “politik itu kotor”. Sebab, yang sesungguhnya kotor itu bukan politik, tapi manusianya (pelakunya). Politik adalah fitrah. Ia berada dalam garis linier dengan agama. Politik dan agama, atau agama dan politik, adalah dua hal yang tidak bertentangan. Maka, adalah hal yang keliru bila orang yang memisahkan agama dengan politik.
Politik adalah tata aturan hidup yang kasat mata. Namun, bukan berarti hal itu dapat dipisahkan dari ruh agama. Sebaliknya, justru harus merupakan manifestasi dari sosok manusia beragama. Konsekuensinya, meski sama-sama beragama Islam, namun umat Islam berbeda dalam hal penafsiran, pemahaman, dan pengalaman agamanya. Perbedaan ini, sah-sah saja, sepanjang menyangkut furu’ (cabang), bukan menyangkut pokok seperti akidah (tauhidullah).
Di sinilah, kita harus membangun politik yang dilandasi dengan nilai-nilai Islam. Politik harus menjadi sarana untuk mewujudkan ajaran Islam di muka bumi. Tanpa partisipasi politik umat Islam, yang mampu menjalankan politik Islam secara benar, maka ajaran Islam sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk mencapai itu, kita tidak boleh terlepas dari etika islami. Bukankah untuk mencapai sesuatu hasil yang bagus, harus menggunakan cara yang bagus pula. Mustahil, sebuah partai politik (baca: berpolitik) akan mampu membela Islam dan umat Islam, jika tega menggunakan cara curang, penuh intimidasi, manipulasi, dll. yang diharamkan. Di sinilah, perlunya kita membangun kebeningan hati dalam berpolitik. Sehingga hasil yang diperoleh benar-benar bersih. Dan dengan cara yang bersih pula, maka hasilnya akan mengandung manfaat yang penuh berkah.
Islam sendiri merupakan sumber inspirasi bagi kehidupan manusia di panggung dunia, termasuk dalam hal melakukan politik perubahan bangsa. Artinya setiap kita `bebas’ memainkan peran apa saja, yang jelas setelah itu kita akan menjalani kehidupan sebenarnya. Di situlah, eksistensi seorang manusia menjadi taruhannya dalam menggapai hidup bahagia yang hakiki.
Aktualisasi perilaku dalam menggapai tujuan hidup itu, pada masyarakat realitasnya banyak yang keliru dan semu. Mereka dengan berbagai cara berusaha mempertahankan kedudukan, pangkat, jabatan dan status sosial lainnya, yang kadangkala mengabaikan etika dan moralitas. Padahal, Islam sendiri mengajarakan bahwa berbagai label duniawi itu hanyalah aksesoris dunia semata. Justru, keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia manusia yang akan mengantarkannya pada status hidup bahagia.
Perilaku model itu, saat ini masih mengayomi pola pikir masyarakat Indonesia. Materialisme diagungkan, sementara moralitas diabaikan. Kenyataan ini, kalau kita sadar dan mau jujur sebenarnya itulah yang merupakan akar dari keterpurukan bangsa ini. Dampaknya, bila pola pikir dan perilaku semacam itu masih dilakukan masyarakat, maka jangan harap bangsa ini segera mengalami perubahan kehidupan yang lebih baik.
Jadi, sangat wajar bila berawal dari berlangsungnya perubahan sosial yang baik di masayarakat itu akan berdampak terhadap perubahan bangsa yang baik pula di kemudian hari. Inilah kelihatannya sebuah kesadaran yang perlu dipahami oleh setiap kalangan pembangun bangsa, sehingga kita tidak terbawa dalam mitos perubahan yang menyesatkan.

Minggu, 24 Januari 2010

ayoo..biasakan bangun pagi-pagi...

Life is full of choices, a bad choice is still a choice.


Setiap hari mulai dari bangun pagi sebetulnya disuruh memilih.. bangun pagi sholat subuh atau melanjutkan tidur dibalik selimut? (apalagi sedang musim hujan.. ).. plus mata sudah berkaca2…prikitiwww..saing
an dengan mamah dan A'a niihhh .... ckckck......

Bangun pagi itu indah. Suasana pagi itu sejuk. Udara pagi itu sehat. Pagi itu penuh kedamaian dan harapan. Pagi itu start - awal kehidupan. Maka dari itu, banyak orang tua yang berpesan agar selalu dapat bangun pagi – pagi. Jangan malas. Apalagi sampai keduluan matahari. PAMALI , ujar urang banjar tu... Itu pesan luhur yang sering disuguhkan pada saya kala bocah. Sebab pada kenyataannya, pada usia- usia mahasiswa ini, memang susah untuk bangun pagi.. Apalagi sampai menikmati indahnya terbit matahari.

Nggak rugi deh punya kebiasaan bangun pagi , badan segar, otak pun jadi encer.
Nah, coba deh menelepon teman di waktu pagi biasanya akan disambut dengan suara merdu operator yang berkata, “Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang tidak dapat menerima panggilan”.asyik juga sering telepon orang di pagi hari, bisa jadi ladang pahala. Bisa maafin banyak orang, hehehe...

Gas Ozon, Hormon pertumbuhan, dan Cortisol yang oke banget...


Blogspot.COM ..Masih ingat sama Riana Helmi yang sukses masuk Fakultas Kedokteran UGM di usianya yang baru 14 tahun? Bukan sulap bukan sihir, sobat juga bisa mengikuti sukses studinya Riana. Nggak perlu belajar berjam-jam manteng di depan buku, karena menurut dia percuma baca buku berjam-jam kalau nggak ada yang masuk. Lantas apa yang membuat dara kelahiran 22 Maret 1991 ini sukses tembus UGM lewat system Penelusuran Bibit Skolastik (PBS)? Salah satunya karena doi punya kebiasaan belajar jam 3 pagi. Wahhh, masih sipit kalee bangun jam segitu…. Tapi ini adalah rahasia tambah cerdas yang sudah dirintis oleh Rasulullah sejak 14 abad yang lalu dan sudah dubuktikan secara ilmiah. Sodara-sodara!!!

Omong-omong, ternyata memang susah banget menemukan orang yang sudah segar di waktu pagi kecuali kalau dia sekolah or kuliah dengan jarak yang jauh. Biasanya setelah shalat shubuh, kita terbang lagi ke ‘Pulau Kapuk, bahkan nggak jarang malah kesiangan shalat shubuh . Padahal, banyak banget manfaat bangun pagi yang bisa bikin sobat tambah tokcer belajar.

Jadi , resep bangun pagi adalah: pergi tidur saat telah mengantuk, bangun pada waktu tertentu dan tetap, kemudian lakukan hal ini berkali-kali sampai kita merasa bahwa ritme bangun tidur kita sudah berjalan secara alami. Jika kebiasaan bangun pagi ini telah berhasil dilakukan, jangan pernah meninggalkannya meskipun pada akhir pekan atau hari libur.